Menilik Living museum di Ndalem Joyokusuman
Posted on | February 24, 2012 | No Comments
Tak hanya megah, indah, sarat makna dan nilai-nilai sosiokultural, bangunan ini bahkan merupakan satu-satunya living museum yang ada di dunia.
Memasuki rumah berarsitektur joglo di Jalan Rotowijayan 5, Kadipaten, Kraton, Yogyakarta, orang pasti akan langsung mengetahui bahwa bangunan ini milik salah satu pangeran keturunan Sultan penguasa Jogja. Hal itu setidaknya terlihat dalam interior serta furnitur yang memenuhi rumah seluas hampir 2.000 meter persegi tersebut. Penataan isi furnitur yang kebanyakan merupakan peninggalan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, membuat rumah yang telah menjadi bangunan cagar budaya ini semakin terasa keningratannya.
Sejak tahun 1987, rumah ini resmi menjadi kediaman GBPH Joyokusumo beserta keluarga. Menurut istri sang pangeran, BRAy. Hj. Nuraida Joyokusumo, Ndalem Joyokusuman dibangun pada tahun 1916, ketika masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII. Sebelumnya, ndalem ini didiami oleh Raden Wedono Condrokusumo, sepupu Sultan Hemengkubuwono VII. Oleh karena itu, pada awalnya ndalem ini diberi nama ndalem Condrokusuman. Setelah Raden Wedono wafat, dalem ini ditempati oleh salah satu adik Sultan Hamengkubuwono IX, yaitu GBPH Bintoro, seorang ajudan Sultan yang juga menjadi Presiden Lions Club di Indonesia yang pertama. Setelah GBPH Bintoro meninggal, ndalem ini ditempati oleh GBPH Joyokusumo yang tak lain merupakan adik bungsu Sri Sultan Hamengkubuwono X. Semenjak ditempati keluarga GBPH Joyokusumo, rumah ini lekat dengan nama Ndalem Joyokusuman.
Seperti ndalem pada umumnya, Ndalem Joyokusuman pun memiliki tujuh konsep utama rumah Jawa. “Ketujuh konsep utama tersebut yakni pendopo, pringgitan, sentong tengen, sentong tengah, sentong kiwa, gadri, dan pawon,” jelas Ibu Hj. BRAy. Nuraida Joyokusumo. Sambil menjelajah ruang demi ruang, wanita berparas ayu ini dengan lugas menjelaskan fungsi dan arti dari bagian-bagian rumah Jawa tersebut.
Pembagian ruang pada rumah Jawa banyak dipengaruhi oleh faktor budaya. Kebudayaan agraris merupakan salah satu faktor yang memiliki peran cukup besar dalam menentukan fungsi ruang. Sebelum pendopo, ada kuncung yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian kereta. Letak pendopo selalu ada di depan dan bersifat terbuka. Bentuk serta ukuran bangunan pendopo dapat mencerminkan kedudukan, pangkat dan derajat pemiliknya.
“Pendopo sebagai konsep utama dan pertama dalam pembagian ruang. Ini merupakan tempat menerima dan menjamu tamu. Layaknya sistem kekerabatan masyarakat Jawa yang masih menganut garis patrilineal, dimana laki-laki memegang peranan utama, maka pendhopo ini adalah kekuasaan sang ayah. Sedangkan, wilayah kekuasaan ibu mulai dari konsep kedua hingga ketujuh. Kalau kita melihat konsep rumah Jawa ini, sebenarnya kita sebagai wanita memiliki posisi lebih tinggi dari pria. Karena di sini, si wanita tidak hanya menguasai satu tempat saja, namun enam konsep selanjutnya merupakan kekuasaan ibu. Jadi ibu tidak hanya mendidik anak, bukan hanya menata rumah, tapi ibu juga diwajibkan mencari ilmu setinggi mungkin dengan seizin suami untuk menjadikan generasi selanjutnya lebih baik,” papar wanita asli Kalimantan Timur ini. Pendhopo tersebut selain menjadi tempat menerima tamu juga berfungsi sebagai restoran milik keluarga GBPH Joyokusumo, yakni Gadri Resto.
Konsep kedua yakni pringgitan, berasal dari kata “ringgit” yang artinya wayang. Ruangan ini sudah termasuk wilayah publik karena pada zaman dulu, ruangan ini sering digunakan sebagai tempat untuk melihat pertunjukan wayang kulit. Di pringgitan ini, kita bisa melihat ada satu kesatuan simbol yang menggambarkan keharmonisan dalam sebuah rumah tangga.
“Kraton menyimpan banyak simbol kehidupan yang beberapa di antaranya dapat ditemui dalam ndalem-ndalem pangeran. Pada tiang-tiang penyangga pringgitan juga ada berbagai simbol seperti yin dan yang versi Jawa, simbol padi dan kapas yang diletakkan di atas pintu menuju senthong tengah serta patung Loro Blonyo yang berdampingan, merupakan satu kesatuan utuh yang menggambarkan bahwa sang pemilik merupakan pasangan yang harmonis dan sejahtera,” ungkap Ibu Nuraida.
Memang, bukan rahasia lagi jika masyarakat Jawa merupakan salah satu kelompok yang tidak hanya menjadikan bertani sebagai mata pencarian tapi juga urat nadi seluruh kehidupan. Kepercayaan masyarakat Jawa di masa sebelum masuknya Islam banyak dipengaruhi oleh kegiatan agraris; begitu pun dengan peran ruang-ruang pada tempat tinggal. Termasuk legenda Dewi Sri yang memiliki ruang khusus di dalam rumah.
Senthong sendiri memiliki arti ruang yang diberi sekat. Terletak di sisi belakang rumah, senthong berupa kamar tertutup yang memiliki bukaan untuk masuk berdaun pintu atau dipasangi tirai. Ada 3 buah senthong pada setiap rumah Jawa. Ketiganya saling berjajar, disebut senthong tengen, senthong tengah, dan senthong kiwa.
Konsep ketiga adalah senthong tengen yang merupakan ruang tidur utama sang tuan rumah. Menurut Ibu Nuraida, tempat tidur yang ditempati merupakan peninggalan Raden Wedono Condrokusumo, sepupu Sultan Hemengku Buwono VII, yang tak lain pemilik pertama ndalem ini. Sedangkan senthong tengah yang menduduki konsep keempat merupakan ruang yang mewadahi kebutuhan manusia untuk melaksanakan ritual yang erat kaitannya dengan pertanian dan Dewi Sri.
“Konsep kelima yakni senthong kiwa. Biasanya senthong kiwa digunakan sebagai kamar bagi tamu-tamu penting dan keluarga yang datang. Namun, kami memilih meletakkan tempat tidur peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan istri keduanya KRAy Windyaningrum. Di tempat tidur inilah KRAy. Windyaningrum melahirkan keempat anaknya termasuk GBPH Joyokusumo dan Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X,” lanjut Ibu Nuraida. Beberapa benda-benda seperti meja rias, sanggul milik KRAy. Windyaningrum, pot bunga keramik Sultan Hamengkubuwono VI serta foto-foto lawas tampak menghias kamar ini.
Konsep keenam yakni gadri biasanya digunakan sebagai ruang keluarga yang juga berfungsi untuk ruang makan. Menikmati gadri di ndalem milik keluarga adik bungsu Ngarsa Dalem ini sungguh terasa nyaman. Kesejukan mewarnai ndalem yang berusia hampir satu abad ini dengan adanya kolam ikan, ayam dan kucing yang merupakan klangenan Sultan HB IX. Adanya setengah set gamelan Kanjeng Kyai Retno Puspo menambah kental suasana Jawa dalam rumah ini.
Konsep ketujuh yakni pawon. Jika melihat undakan di pawon ini, kita akan mengetahui bahwa tinggi lantai ini setingkat dengan pendhopo. Ini merupakan simbol bahwa kedudukan istri disetarakan dengan suami. Adanya pawon ini juga diharapkan sang ibu dapat memasak masakan yang halal agar dapat menurunkan hidayah pada sang anak,” urai ibu tiga anak ini.
Sebagai hunian yang juga menjadi living museum, keluarga GBPH Joyokusumo sudah sangat memahami bahwa kehidupan pribadi mereka dapat dilihat oleh para tamu yang datang ke kediaman mereka. Menurut Ibu Nuraida, inspirasi untuk membuat satu-satunya living museum yang ada di dunia ini mulai ada sejak dirinya tinggal di ndalem ini.
“Tujuan saya hanya ingin membantu melestarikan kebudayaan dengan memanfaatkan peninggalan sejarah masa lampau yang erat kaitannya dengan keberadaan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Beragam peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono IX seperti tempat tidur, piranti makan serta souvenir dari para kolega menjadikan kesan living museum tampak hidup.Tak hanya itu, sekelumit cerita mengenai benda-benda pusaka milik keluarga kerajaan Mataram yang tersimpan rapi di ndalem pangeran ini menjadi salah satu kunci untuk membuat tamu datang dan menikmati kenyamanan Ndalem Joyokusuman ini.
Della Yuanita, FA. Herru; Foto : Budi Prast
Jogja! Never Ending Lurik
Posted on | February 21, 2012 | No Comments
Lurik tidak pernah lekang oleh waktu, terbukti kini semakin banyak designer yang mencoba meng-explore bahan lurik tradisonal. Ditangan para designer ciri khas masing-masing kain lurik disulap menjadi busana-busana yang sangat cantik, elegant dan pastinya berselera global. Terbukti sudah bahwa olahan lurik sudah sangat beragam baik dari segi warna, corak maupun texture. Salah satu designer handal Jogja yang sudah lama berkiprah di dunia fashion adalah Ari Sudewo. Di tangan perancang berbakat ini, lurik diolah menjadi busana-busana cantik dengan rancangan beragam yang bisa digunakan pada setiap kesempatan. Bahkan sang perancang juga mengolah bahan lurik menjadi adibusana denga gaya “Avant Garde“ yang menjadi masterpiece dalam koleksi kali ini. Kali ini, Ari Sudewo sengaja menonjolkan motif, corak dan warna pada lurik apa adanya, sehingga secara keseluruhan rancangan ini walapun bernuansa tradisional namun tetep kelihatan modern.
Profil Desainer
Siapa tidak kenal Arie Sudewo, Lelaki lajang berkumis rapi ini sudah tentu dikenal oleh masyarakat Jogja sebagai salah satu designer berbakat di kota Yogyakarta. Ari memulai karirnya sebagai fashion designer pada tahun 1988, sebagai pengusaha garmen dan konveksi sampai pada tahun 90an.
Pada tahun 1990 Ari Sudewo sudah berani menerima pesanan busana atau istilah keren nya “made by order”. Hampir semua klasifikasi busana ditangani oleh perancang bertangan dingin ini antara lain casual wear, office wear, kebaya, evening dress, bridal hingga gaun masterpiece dimana lebih menitik beratkan gaun-gaun yang spektakuler.
Adapun klien-klien perancang ini sangatlah beragam dari berbagai status sosial mulai dari kalangan menengah sampai VVIP. “Saya sangat tidak begitu suka menyebutkan nama klien saya di publik. Point utama saya adalah klien puas dengan hasil karya saya,”kata Arie kepada Kabare. Hingga saat ini, Arie Sudewo tetap setia dengan profesi nya sebagai fashion designer yang sudah ditekuninya selama puluhan tahun.
Warung Makan Sidat Bu Istiana
Posted on | February 17, 2012 | 2 Comments
Bagi sebagian Anda, mungkin saja ada yang belum mengenal ikan Sidat. Seperti ikan-ikan yang lain, sidat juga enak dan sehat dikonsumsi. Memang, sidat sangat jarang dijadikan santapan yang dijual di warung-warung makan atau resto. Maklum, sidat sangat sulit dicari.
Kalau Anda melihat bentuknya, pasti akan langsung teringat pada belut. Sidat memang berbentuk seperti belut, punya tubuh panjang namun berbadan lebih besar dan juga berlendir. Panjangnya berbeda-beda, dari mulai 30 sentimeter sampai 1 meter.
Ikan sidat disebut juga ikan mus atau ikan uling, dan nama ilmiahnya adalah Anguilla Japonica. Ini adalah sejenis ikan dengan nilai gizi sangat tinggi, kaya akan protein serta vitamin D dan E, serta mempunyai mucoprotein yang kaya, disebut sebagai asam amino lemak ganggang dan asam ribonukleat. Dari bermacam catatan, sidat memang memiliki banyak kandungan vitamin dan zat-zat bergizi.
Nah, jika sekali waktu Anda sedang berlibur ke Jogja dan tertarik untuk menyantapnya, itulah saat yang baik bagi Anda untuk mampir ke Warung Ikan Sidat di daerah Mlati, Sleman. Wrung ini tepatnya berada di Jl P. Purboyo, kios Warak No.1, Sumberadi, Mlati, Sleman. Dari perempatan pasar Cebongan, ke utara sekitar 500 meter.
Di warung milik bu Istiana ini, Anda bisa mencicip empat jenis masakan sidat; rica-rica, kukus presto, mangut dan goreng. Meski baru buka sekitar 4 tahunan, namun warung ini sering dicari banyak orang. Gusti Joyo, Butet Kertaradjasa, juga para pelancong asal Jepang pun sering mampir di sana.
FA Herru; Foto: Budi Prast
Pakualaman Tunjuk Putra Mahkota
Posted on | February 5, 2012 | No Comments
Calon pemimpin Pura Pakualaman sudah ditunjuk demi berlangsungnya kehidupan kadipaten tersebut.
Regenerasi kepemimpinan dalam Pura Pakualaman Yogyakarta dipastikan akan tetap berjalan secara lancar. Hal itu bisa terjadi lantaran kadipaten tersebut kini sudah punya putra mahkota. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (KGPAA) Pakualam IX menunjuk putra sulungnya, Kanjeng Bendara Pangeran Haryo (KBPH) Prabu Suryodilogo, sebagai putra mahkota yang kelak akan meneruskan kepemimpinan serta menjalankan ketataprajaan Kadipaten Pakualaman.

Penunjukan dilakukan bertepatan dengan peringatan Tingalan Dalem 76 tahun KGPAA Paku Alam IX di Bangsal Sewatama Pura Pakualaman, 31 Januari 2012 lalu. Penunjukkan ini juga mendapat dukungan dari segenap trah dan kerabat Pakualaman yang tergabung dalam Keluarga Besar Hudyana. Dukungan diserukan pada acara pernyataan sikap usai upacara Tingalan Dalem. Pernyataan sikap tersebut ditandatangani oleh anggota Hudyana Jakarta KPH Soerjosoejarso, anggota Hudyana Semarang KRMT Sasongkonagoro, anggota Hudyana Bali KRMT Brotoatmojo, anggota Hudyana Surabaya KPH Jurumartani, dan anggota Hudyana Jogja KPH Kusumoparastho.
“Menjadi seorang Pangeran Pati bukan sesuatu yang mudah dan sederhana. KBPH Prabu Suryodilogo kami pandang sudah siap dan matang untuk menjadi putra mahkota yang akan meneruskan tahta,” ujar KPH Kusumoparastho, mewakili Keluarga Besar Hudyana Pakualaman. Ia berujar, penunjukkan dilakukan langsung oleh PA IX. . dan prosesnya sudah melalui mekanisme sesuai adat Pura Pakualaman.
Penunjukkan putra mahkota yang dilakukan sebelum Paku Alam IX mangkat, menurut Kusumoparastho, memang berbeda dari mekanisme pemilihan Paku Alam IX menggantikan ayahnya yang dilakukan setelah Paku Alam VIII wafat. Menurutnya, perbedaan mekanisme ini menunjukkan Paku Alam IX memiliki persiapan yang matang dalam regenerasi.
“Penunjukkan ini sekaligus memperlihatkan bahwa Pakualaman sudah siap dengan regenerasi,” tukasnya. KBPH Prabu Suryodilogo yang bernama asli Drs. RM. Wijoseno Hario Bimo saat ini menjabat sebagai kepala Biro Kesra Dinas Sosial di Pemerintah Provinsi DIY.
Singgih Wahyu; Foto: Albert
Hujan Mantra di Prambanan
Posted on | February 2, 2012 | No Comments
Lantunan rapal doa di situs nusantara untuk kedamaian bumi pertiwi.
Hujan selalu mengguyur hampir tiap hari pada awal tahun ini. Turunnya hujan bagi masyarakat Tionghoa adalah pertanda datangnya kebaikan dan kemakmuran. Juga terkandung harapan optimis akan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Gerimis sempat mengguyur pula area Ramayana Stage, kompleks Candi Prambanan Yogyakarta, 11 Januari 2012, sesaat sebelum konser “Sembah Sujud Doa Pertiwi: Harmoni Nusantara” berlangsung.
Tak sekadar pertunjukan musik, gelaran ini melantunkan selaksa “mantra” untuk kedamaian dan kebaikan negeri ini dalam alunan musik modern dengan nuansa etnik yang kental. Dalam nuansa yang reflektif dan meditatif, konser tersebut menjelma menjadi persembahan dan puji-pujian pada Tuhan. Menghadirkan Trie Utami, kelompok Nyanyian Dharma dan Dewa Budjana, Komunitas Sunda Wiwitan Rajah Mantra, Ayu Laksmi, Gde Kurniawan, penyanyi Laksmi Devi dari San Fransisco, serta grup rock fusion Bali, Mr. Botax.
Candi Prambanan dipilih karena situs nusantara tersebut menyimpan spirit rohani yang luar biasa. Spirit itulah yang ingin diungkapkan para musisi tersebut lewat lagu-lagu. “Keinginan kami, suatu saat harus melakukan satu persembahan di situs budaya nusantara. Candi Prambanan memang salah satu impian, di samping Jogja kuat akar budayanya,” jelas Bagus Mantra selaku pimpinan pagelaran.
Gerimis perlahan berhenti ketika Komunitas Sunda Wiwitan Rajah Mantra melantunkan rapal-rapal mantra sekaligus membuka konser tersebut. Lantunan suara menyanyat dari rebab, ditimpali petikan kecapi, karinding, dan vocal yang merapalkan doa-doa, membawa suasana pada sebuah titik ketenangan batin. Suasana nglangut itu kemudian berganti dengan dentuman music rock dari Mr. Botax, grup musik rock fusion asal Bali. Mereka membawakan musik etnik Bali dengan balutan konsep rock yang rancak.
Penampilan selanjutnya adalah kelompok Nyanyian Dharma. Konsepnya adalah pelestarian nilai luhur Nusantara dalam bingkai kekinian yang dapat menjadi acuan generasi muda dalam melestarikan budaya bangsa, terutama Bali. Tidak heran dalam kemasan musiknya, Nyanyian Dharma kental dengan nuansa Bali. Segenap penonton kemudian larut dalam perasaan tenang dan damai melalui lagu-lagu seperti Saraswati tentang Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan, Kuasa-Nya dan juga lagu Tri Kaya Parisudha.
Trie Utami turut menyumbangkan sebuah mantra untuk salah satu lagunya yaitu Mantram Gayatri. Pada format kelompok musisi Nyanyian Dharma ini dapat dilihat partisipasi Ayu Laksmi yang memberikan persembahan lagu dan tarian. Petikan gitar Dewa Budjana bertingkah bersama gamelan, kendhang, dan alat musik lain menciptakan komposisi unik dan memukau. Dalam lagu lain, komposisi ini juga diperkaya dengan permainan improvisasi vokal Laksmi Devi yang bernuansa Hindustan.
Acara ini menghantarkan kedamaian dan juga mewujudkan konsep multikultural yang nyata dengan partisipasi dan kehadiran dari banyak tokoh lintas kultural, agama dan multidisipliner. Seperti Sri Sultan Hamengku Buwono X, Alissa Wahid, Djaduk Ferianto, rohaniawan Anand Krisna, serta Romo Banar. Mereka kemudian larut dalam doa bersama yang diserukan Tri Utami.
“Semua yang hadir di tempat ini merupakan anak-anak ibu pertiwi yang dilahirkan, dibesarkan, menghirup nafas, dan bertumbuh di atas tanah ini. Ujud syukur malam ini tidak lain adalah pujian dan terima kasih kepada ibu pertiwi,” ujarnya. Sultan HB X pun mengungkapkan apresiasinya atas inisiatif para pemusik mendoakan negeri ini. Semoga Ibu Pertiwi tetap memberi keadilan dan kedamaian bagi kita, demikian Sultan berujar.
Singgih Wahyu; Foto: Budi Prast























