Ulang Tahun ke-12 Sekar Jagad , Ajak Pilih Batik Tulis
Posted on | June 22, 2011 | 1 Comment
Batik, kain tradisional bermotif yang sudah diturunkan oleh nenek moyang kita, sempat menjadi bagian yang mendominasi kebutuhan sandang. Dulu, sebelum akhirnya muncul model pakaian rok dan gaun, hampir semua wanita di Indonesia mengenakan kain batik untuk melengkapi tata berbusananya.
Karakteristik wanita yang sopan dan bersahaja tersirat dari jarik yang dikenakan sebagai penutup tubuh pinggang ke bawah. Ditengok dari proses pembuatannya, batik yang dipakai pada saat itu tak lain hanyalah batik tulis. Hasil karya murni yang mengandalkan sense of art tinggi, ketelitian serta kesabaran untuk memainkan canting di atas lembaran-lembaran kain. Seperti sudah turun menurun, batik tidak hanya dibiarkan menjadi sebuah warisan saja. Namun batik akan tetap dihidupkan dan diteruskan sebagai salah satu simbol kepribadian bangsa Indonesia.
Almh. KRAy. Hastungkara, bunda GBPH Prabukusumo, adalah perempuan Jawa yang dibesarkan di lingkungan keraton. Ia dilahirkan pada 27 Maret 1930. Karena kecintaannya pada batik yang dituangkan dalam karya batik klasik, kini ia menjadi inspirasi generasi baru untuk membangkitkan kembali batik tulis di Yogyakarta. Keahliannya menorehkan karya batik tulis yang halus dan indah, menjadikannya mampu menghasilkan motif- motif batik baru. Antara lain Pandan Sima, Gembiraloka, dan Parangtritis.
Bersamaan dengan penyambutan hari ulang tahun ke-12 Paguyuban Pencinta Batik Indonesia (PPBI) “Sekar Jagad”, paguyuban ini mengadakan Pagelaran Batik Klasik karya Almh. KRAy. Hastungkara. Acara yang berlangsung Rabu 11 Mei lalu ini dimaksudkan untuk memberikan tambahan pemahaman masyarakat tentang batik klasik agar tetap memiliki ketertarikan terhadap pesona batik tulis.
Beberapa gelaran koleksi karya batik tulis Yogyakarta karya KRAy. Hastungkara lainnya adalah Parang Barong Dwinaga Rasa Tunggal, Laras Kongas, Purbonegoro, Picis Mangkara, Kotak Kawung Purnama, Parang Plenik Naga Kukilo, dan Parang Paradise. Tradisi membatik juga diturunkannya pada cucu tercintanya, RAj Hira Juwita, putri GBPH Prabukusumo, yang hadir dengan koleksi karya-karyanya yang ekspresif dan dapat diperhitungkan. Pergelaran terhadap seni adiluhung ini juga bermaksud mengikutsertakan generasi muda untuk ambil bagian dalam meneruskan eksistensi batik tulis.
Ir. Dra. Larasati Suliantoro Sulaiman selaku ketua Paguyuban Sekar Jagad, menyampaikan pentingnya batik sebagai identitas budaya, batik sebagai pakaian nasional dan batik sebagai maha karya pusaka kemanusiaan lisan dan tidak benda. Hal ini juga sudah diakuai oleh UNSEO pada tanggal 2 Oktober 2009. Momen ulang tahun ini sekaligus digunakan sebagai penanda bahwa Paguyuban Sekar Jagad menolak adanya batik printing, karena dinilai mengancam kelestarian dan masa depan batik Indonesia. Karena itu, PPBI Sekar Jagad mengajak pencinta batik untuk lebih memilih mengenakan batik tulis, demi kebangkitan kembali batik tulis di tengah gerusan produk kain tekstil bermotif batik.
Mei Ratri; Foto: Albert
Comments
-
Fajar Setyo Hartono























