Hujan Mantra di Prambanan
Posted on | February 2, 2012 | No Comments
Lantunan rapal doa di situs nusantara untuk kedamaian bumi pertiwi.
Hujan selalu mengguyur hampir tiap hari pada awal tahun ini. Turunnya hujan bagi masyarakat Tionghoa adalah pertanda datangnya kebaikan dan kemakmuran. Juga terkandung harapan optimis akan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Gerimis sempat mengguyur pula area Ramayana Stage, kompleks Candi Prambanan Yogyakarta, 11 Januari 2012, sesaat sebelum konser “Sembah Sujud Doa Pertiwi: Harmoni Nusantara” berlangsung.
Tak sekadar pertunjukan musik, gelaran ini melantunkan selaksa “mantra” untuk kedamaian dan kebaikan negeri ini dalam alunan musik modern dengan nuansa etnik yang kental. Dalam nuansa yang reflektif dan meditatif, konser tersebut menjelma menjadi persembahan dan puji-pujian pada Tuhan. Menghadirkan Trie Utami, kelompok Nyanyian Dharma dan Dewa Budjana, Komunitas Sunda Wiwitan Rajah Mantra, Ayu Laksmi, Gde Kurniawan, penyanyi Laksmi Devi dari San Fransisco, serta grup rock fusion Bali, Mr. Botax.
Candi Prambanan dipilih karena situs nusantara tersebut menyimpan spirit rohani yang luar biasa. Spirit itulah yang ingin diungkapkan para musisi tersebut lewat lagu-lagu. “Keinginan kami, suatu saat harus melakukan satu persembahan di situs budaya nusantara. Candi Prambanan memang salah satu impian, di samping Jogja kuat akar budayanya,” jelas Bagus Mantra selaku pimpinan pagelaran.
Gerimis perlahan berhenti ketika Komunitas Sunda Wiwitan Rajah Mantra melantunkan rapal-rapal mantra sekaligus membuka konser tersebut. Lantunan suara menyanyat dari rebab, ditimpali petikan kecapi, karinding, dan vocal yang merapalkan doa-doa, membawa suasana pada sebuah titik ketenangan batin. Suasana nglangut itu kemudian berganti dengan dentuman music rock dari Mr. Botax, grup musik rock fusion asal Bali. Mereka membawakan musik etnik Bali dengan balutan konsep rock yang rancak.
Penampilan selanjutnya adalah kelompok Nyanyian Dharma. Konsepnya adalah pelestarian nilai luhur Nusantara dalam bingkai kekinian yang dapat menjadi acuan generasi muda dalam melestarikan budaya bangsa, terutama Bali. Tidak heran dalam kemasan musiknya, Nyanyian Dharma kental dengan nuansa Bali. Segenap penonton kemudian larut dalam perasaan tenang dan damai melalui lagu-lagu seperti Saraswati tentang Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan, Kuasa-Nya dan juga lagu Tri Kaya Parisudha.
Trie Utami turut menyumbangkan sebuah mantra untuk salah satu lagunya yaitu Mantram Gayatri. Pada format kelompok musisi Nyanyian Dharma ini dapat dilihat partisipasi Ayu Laksmi yang memberikan persembahan lagu dan tarian. Petikan gitar Dewa Budjana bertingkah bersama gamelan, kendhang, dan alat musik lain menciptakan komposisi unik dan memukau. Dalam lagu lain, komposisi ini juga diperkaya dengan permainan improvisasi vokal Laksmi Devi yang bernuansa Hindustan.
Acara ini menghantarkan kedamaian dan juga mewujudkan konsep multikultural yang nyata dengan partisipasi dan kehadiran dari banyak tokoh lintas kultural, agama dan multidisipliner. Seperti Sri Sultan Hamengku Buwono X, Alissa Wahid, Djaduk Ferianto, rohaniawan Anand Krisna, serta Romo Banar. Mereka kemudian larut dalam doa bersama yang diserukan Tri Utami.
“Semua yang hadir di tempat ini merupakan anak-anak ibu pertiwi yang dilahirkan, dibesarkan, menghirup nafas, dan bertumbuh di atas tanah ini. Ujud syukur malam ini tidak lain adalah pujian dan terima kasih kepada ibu pertiwi,” ujarnya. Sultan HB X pun mengungkapkan apresiasinya atas inisiatif para pemusik mendoakan negeri ini. Semoga Ibu Pertiwi tetap memberi keadilan dan kedamaian bagi kita, demikian Sultan berujar.
Singgih Wahyu; Foto: Budi Prast























