<?xml version="1.0" encoding="UTF-7"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://kabaremagazine.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kabaremagazine.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 14 May 2013 13:21:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Menilik Living museum di Ndalem Joyokusuman</title>
		<link>http://kabaremagazine.net/2012/02/menilik-living-museum-di-ndalem-joyokusuman/</link>
		<comments>http://kabaremagazine.net/2012/02/menilik-living-museum-di-ndalem-joyokusuman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Feb 2012 03:30:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusyr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Canthing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabaremagazine.net/?p=651</guid>
		<description><![CDATA[Tak hanya megah, indah, sarat makna dan nilai-nilai sosiokultural, bangunan ini bahkan merupakan satu-satunya living museum yang ada di dunia. Memasuki rumah berarsitektur joglo di Jalan Rotowijayan 5, Kadipaten, Kraton, Yogyakarta, orang pasti akan langsung mengetahui bahwa bangunan ini milik [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-624" title="Canthing edisi Pebruari 2012 (2)" src="http://kabaremagazine.net/wp-content/uploads/2012/02/Canthing-edisi-Pebruari-2012-2.jpg" alt="" width="500" /></strong><em>Tak hanya megah, indah, sarat makna dan nilai-nilai sosiokultural, bangunan ini bahkan merupakan satu-satunya living museum yang ada di dunia.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Memasuki rumah berarsitektur joglo di Jalan Rotowijayan 5, Kadipaten, Kraton, Yogyakarta, orang pasti akan langsung mengetahui bahwa bangunan ini milik salah satu pangeran keturunan Sultan penguasa Jogja. Hal itu setidaknya terlihat dalam interior serta furnitur yang memenuhi rumah seluas hampir 2.000 meter persegi tersebut. Penataan isi furnitur yang kebanyakan merupakan peninggalan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, membuat rumah yang telah menjadi bangunan cagar budaya ini semakin terasa keningratannya.</p>
<p>Sejak tahun 1987, rumah ini resmi menjadi kediaman GBPH Joyokusumo beserta keluarga. Menurut istri sang pangeran, BRAy. Hj. Nuraida Joyokusumo, Ndalem Joyokusuman dibangun pada tahun 1916, ketika masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII. Sebelumnya, ndalem ini didiami oleh Raden Wedono Condrokusumo, sepupu Sultan Hemengkubuwono VII. Oleh karena itu, pada awalnya ndalem ini diberi nama ndalem Condrokusuman. Setelah Raden Wedono wafat, dalem ini ditempati oleh salah satu adik Sultan Hamengkubuwono IX, yaitu GBPH Bintoro, seorang ajudan Sultan yang juga menjadi Presiden Lions Club di Indonesia yang pertama. Setelah GBPH Bintoro meninggal, ndalem ini ditempati oleh GBPH Joyokusumo yang tak lain merupakan adik bungsu Sri Sultan Hamengkubuwono X. Semenjak ditempati keluarga GBPH Joyokusumo, rumah ini lekat dengan nama Ndalem Joyokusuman.</p>
<p>Seperti ndalem pada umumnya, Ndalem Joyokusuman pun memiliki tujuh konsep utama rumah Jawa. “Ketujuh konsep utama tersebut yakni <em>pendopo, pringgitan, sentong tengen, sentong tengah, sentong kiwa, gadri, </em>dan <em>pawon</em>,” jelas Ibu Hj. BRAy. Nuraida Joyokusumo. Sambil menjelajah ruang demi ruang, wanita berparas ayu ini dengan lugas menjelaskan fungsi dan arti dari bagian-bagian rumah Jawa tersebut.</p>
<p>Pembagian ruang pada rumah Jawa banyak dipengaruhi oleh faktor budaya. Kebudayaan agraris merupakan salah satu faktor yang memiliki peran cukup besar dalam menentukan fungsi ruang. Sebelum pendopo, ada kuncung yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian kereta. Letak pendopo selalu ada di depan dan bersifat terbuka. Bentuk serta ukuran bangunan pendopo dapat mencerminkan kedudukan, pangkat dan derajat pemiliknya.</p>
<p>“<strong><em>Pendopo</em> </strong>sebagai konsep utama dan pertama dalam pembagian ruang. Ini merupakan tempat menerima dan menjamu tamu. Layaknya sistem kekerabatan masyarakat Jawa yang masih menganut garis patrilineal, dimana laki-laki memegang peranan utama, maka <em>pendhopo</em> ini adalah kekuasaan sang ayah. Sedangkan, wilayah kekuasaan ibu mulai dari konsep kedua hingga ketujuh. Kalau kita melihat konsep rumah Jawa ini, sebenarnya kita sebagai wanita memiliki posisi lebih tinggi dari pria. Karena di sini, si wanita tidak hanya menguasai satu tempat saja, namun enam konsep selanjutnya merupakan kekuasaan ibu. Jadi ibu tidak hanya mendidik anak, bukan hanya menata rumah, tapi ibu juga diwajibkan mencari ilmu setinggi mungkin dengan seizin suami untuk menjadikan generasi selanjutnya lebih baik,” papar wanita asli Kalimantan Timur ini. <em>Pendhopo</em> tersebut selain menjadi tempat menerima tamu juga berfungsi sebagai restoran milik keluarga GBPH Joyokusumo, yakni Gadri Resto.</p>
<p>Konsep kedua yakni <strong><em>pringgitan,</em></strong> berasal dari kata “<em>ringgit</em>”<em> </em>yang artinya wayang. Ruangan ini sudah termasuk wilayah publik karena pada zaman dulu, ruangan ini sering digunakan sebagai tempat untuk melihat pertunjukan wayang kulit. Di <em>pringgitan </em>ini, kita bisa melihat ada satu kesatuan simbol yang menggambarkan keharmonisan dalam sebuah rumah tangga.</p>
<p>“Kraton menyimpan banyak simbol kehidupan yang beberapa di antaranya dapat ditemui dalam ndalem-ndalem pangeran. Pada tiang-tiang penyangga <em>pringgitan </em>juga ada berbagai simbol seperti <em>yin</em> dan <em>yang</em> versi Jawa, simbol padi dan kapas yang diletakkan di atas pintu menuju <em>senthong tengah</em> serta patung Loro Blonyo yang berdampingan, merupakan satu kesatuan utuh yang menggambarkan bahwa sang pemilik merupakan pasangan yang harmonis dan sejahtera,” ungkap Ibu Nuraida.</p>
<p>Memang, bukan rahasia lagi jika masyarakat Jawa merupakan salah satu kelompok yang tidak hanya menjadikan bertani sebagai mata pencarian tapi juga urat nadi seluruh kehidupan. Kepercayaan masyarakat Jawa di masa sebelum masuknya Islam banyak dipengaruhi oleh kegiatan agraris; begitu pun dengan peran ruang-ruang pada tempat tinggal. Termasuk legenda Dewi Sri yang memiliki ruang khusus di dalam rumah.</p>
<p><em>Senthong</em> sendiri memiliki arti ruang yang diberi sekat. Terletak di sisi belakang rumah, <em>senthong</em> berupa kamar tertutup yang memiliki bukaan untuk masuk berdaun pintu atau dipasangi tirai. Ada 3 buah <em>senthong</em> pada setiap rumah Jawa. Ketiganya saling berjajar, disebut <em>senthong</em> <em>tengen</em>, <em>senthong</em> <em>tengah</em>, dan <em>senthong</em> <em>kiwa. </em></p>
<p>Konsep ketiga adalah <strong><em>senthong tengen</em></strong> yang merupakan ruang tidur utama sang tuan rumah. Menurut Ibu Nuraida, tempat tidur yang ditempati merupakan peninggalan Raden Wedono Condrokusumo, sepupu Sultan Hemengku Buwono VII, yang tak lain pemilik pertama ndalem ini. Sedangkan <strong><em>senthong tengah</em></strong> yang menduduki konsep keempat merupakan ruang yang mewadahi kebutuhan manusia untuk melaksanakan ritual yang erat kaitannya dengan pertanian dan Dewi Sri.</p>
<p>“Konsep kelima yakni <strong><em>senthong kiwa</em></strong>. Biasanya <em>senthong kiwa</em> digunakan sebagai kamar bagi tamu-tamu penting dan keluarga yang datang. Namun, kami memilih meletakkan tempat tidur peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan istri keduanya KRAy Windyaningrum. Di tempat tidur inilah KRAy. Windyaningrum melahirkan keempat anaknya termasuk GBPH Joyokusumo dan Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X,” lanjut Ibu Nuraida. Beberapa benda-benda seperti meja rias, sanggul milik KRAy. Windyaningrum, pot bunga keramik Sultan Hamengkubuwono VI serta foto-foto lawas tampak menghias kamar ini.</p>
<p>Konsep keenam yakni <strong><em>gadri</em></strong> biasanya digunakan sebagai ruang keluarga yang juga berfungsi untuk ruang makan. Menikmati <em>gadri </em>di ndalem milik keluarga adik bungsu Ngarsa Dalem ini sungguh terasa nyaman. Kesejukan mewarnai ndalem yang berusia hampir satu abad ini dengan adanya kolam ikan, ayam dan kucing yang merupakan <em>klangenan </em>Sultan HB IX. Adanya setengah set gamelan Kanjeng Kyai Retno Puspo menambah kental suasana Jawa dalam rumah ini.</p>
<p>Konsep ketujuh yakni <strong><em>pawon</em></strong>. Jika melihat undakan di <em>pawon</em> ini, kita akan mengetahui bahwa tinggi lantai ini setingkat dengan <em>pendhopo.</em> Ini merupakan simbol bahwa kedudukan istri disetarakan dengan suami. Adanya pawon ini juga diharapkan sang ibu dapat memasak masakan yang halal agar dapat menurunkan hidayah pada sang anak,” urai ibu tiga anak ini.</p>
<p>Sebagai hunian yang juga menjadi <em>living museum, </em>keluarga GBPH Joyokusumo sudah sangat memahami bahwa kehidupan pribadi mereka dapat dilihat oleh para tamu yang datang ke kediaman mereka. Menurut Ibu Nuraida, inspirasi untuk membuat satu-satunya <em>living museum</em> yang ada di dunia ini mulai ada sejak dirinya tinggal di ndalem ini.</p>
<p>“Tujuan saya hanya ingin membantu melestarikan kebudayaan dengan memanfaatkan peninggalan sejarah masa lampau yang erat kaitannya dengan keberadaan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Beragam peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono IX seperti tempat tidur, piranti makan serta souvenir dari para kolega menjadikan kesan <em>living museum</em> tampak hidup.Tak hanya itu, sekelumit cerita mengenai benda-benda pusaka milik keluarga kerajaan Mataram yang tersimpan rapi di <em>ndalem</em> pangeran ini menjadi salah satu kunci untuk membuat tamu datang dan menikmati kenyamanan Ndalem Joyokusuman ini.</p>
<p>Della Yuanita, FA. Herru; Foto : Budi Prast</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabaremagazine.net/2012/02/menilik-living-museum-di-ndalem-joyokusuman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jogja! Never Ending Lurik</title>
		<link>http://kabaremagazine.net/2012/02/jogja-never-ending-lurik/</link>
		<comments>http://kabaremagazine.net/2012/02/jogja-never-ending-lurik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 03:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusyr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gebyar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabaremagazine.net/?p=647</guid>
		<description><![CDATA[Lurik tidak pernah lekang oleh waktu, terbukti kini semakin banyak designer yang mencoba meng-explore bahan lurik tradisonal. Ditangan para designer ciri khas masing-masing kain lurik disulap menjadi busana-busana yang sangat cantik, elegant dan pastinya berselera global. Terbukti sudah bahwa olahan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-628 alignleft" title="Gebyar edisi Pebruari 2012" src="http://kabaremagazine.net/wp-content/uploads/2012/02/Gebyar-edisi-Pebruari-2012.jpg" alt="" width="500" />Lurik tidak pernah lekang oleh waktu, terbukti kini semakin banyak <em>designer </em>yang mencoba meng-<em>explore </em>bahan lurik tradisonal. Ditangan para <em>designer </em>ciri khas masing-masing kain lurik disulap<em> </em>menjadi busana-busana yang sangat cantik, <em>elegant</em> dan pastinya berselera global. Terbukti sudah bahwa olahan lurik sudah sangat beragam baik dari segi warna, corak maupun <em>texture. </em>Salah satu <em>designer </em>handal Jogja yang sudah lama berkiprah di dunia fashion adalah Ari Sudewo. Di tangan perancang berbakat ini, lurik diolah menjadi busana-busana cantik dengan rancangan beragam yang bisa digunakan pada setiap kesempatan. Bahkan sang perancang juga mengolah bahan lurik menjadi adibusana denga gaya <em>“Avant Garde“</em> yang menjadi <em>masterpiece </em>dalam koleksi kali ini. Kali ini, Ari Sudewo sengaja menonjolkan motif, corak dan warna pada lurik apa adanya, sehingga secara keseluruhan rancangan ini walapun bernuansa tradisional namun tetep kelihatan modern.</p>
<p><strong>Profil Desainer</strong></p>
<p>Siapa tidak kenal Arie Sudewo, Lelaki lajang berkumis rapi ini sudah tentu dikenal oleh masyarakat Jogja sebagai  salah satu designer berbakat di kota Yogyakarta. Ari memulai karirnya sebagai <em>fashion designer</em> pada tahun 1988, sebagai pengusaha garmen dan konveksi sampai pada tahun 90an.</p>
<p>Pada tahun 1990 Ari Sudewo sudah berani menerima pesanan busana atau istilah keren nya “made by order”. Hampir semua klasifikasi busana ditangani oleh perancang bertangan dingin ini antara lain <em>casual wear, office wear</em>, kebaya, <em>evening dress, bridal </em>hingga gaun <em>masterpiece</em> dimana lebih menitik beratkan gaun-gaun yang spektakuler.</p>
<p>Adapun klien-klien perancang ini sangatlah beragam  dari berbagai status sosial mulai dari kalangan menengah sampai VVIP. “Saya sangat tidak begitu suka menyebutkan nama klien saya di publik. Point utama saya adalah klien puas dengan hasil karya saya,”kata Arie kepada Kabare. Hingga saat ini, Arie Sudewo tetap setia dengan profesi nya sebagai <em>fashion designer</em> yang sudah ditekuninya selama puluhan tahun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabaremagazine.net/2012/02/jogja-never-ending-lurik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Warung Makan Sidat Bu Istiana</title>
		<link>http://kabaremagazine.net/2012/02/warung-makan-sidat-bu-istiana/</link>
		<comments>http://kabaremagazine.net/2012/02/warung-makan-sidat-bu-istiana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2012 03:48:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusyr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Klangenan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabaremagazine.net/?p=660</guid>
		<description><![CDATA[Bagi sebagian Anda, mungkin saja ada yang belum mengenal ikan Sidat. Seperti ikan-ikan yang lain, sidat juga enak dan sehat dikonsumsi. Memang, sidat sangat jarang dijadikan santapan yang dijual di warung-warung makan atau resto. Maklum, sidat sangat sulit dicari. Kalau [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-629" title="Klangenan  edisi Pebruari 2012" src="http://kabaremagazine.net/wp-content/uploads/2012/02/Klangenan-edisi-Pebruari-2012.jpg" alt="" width="500" />Bagi sebagian Anda, mungkin saja ada yang belum mengenal ikan Sidat. Seperti ikan-ikan yang lain, sidat juga enak dan sehat dikonsumsi. Memang, sidat sangat jarang dijadikan santapan yang dijual di warung-warung makan atau resto. Maklum, sidat sangat sulit dicari.</p>
<p>Kalau Anda melihat bentuknya, pasti akan langsung teringat pada belut. Sidat memang berbentuk seperti belut, punya tubuh panjang namun berbadan lebih besar dan juga berlendir. Panjangnya berbeda-beda, dari mulai 30 sentimeter sampai 1 meter.</p>
<p>Ikan sidat disebut juga ikan mus atau ikan uling, dan nama ilmiahnya adalah Anguilla Japonica. Ini adalah sejenis ikan dengan nilai gizi sangat tinggi, kaya akan protein serta vitamin D dan E, serta mempunyai mucoprotein yang kaya, disebut sebagai asam amino lemak ganggang dan asam ribonukleat. Dari bermacam catatan, sidat memang memiliki banyak kandungan vitamin dan zat-zat bergizi.</p>
<p>Nah, jika sekali waktu Anda sedang berlibur ke Jogja dan tertarik untuk menyantapnya, itulah saat yang baik bagi Anda untuk mampir ke Warung Ikan Sidat di daerah Mlati, Sleman. Wrung ini tepatnya berada di Jl P. Purboyo, kios Warak No.1, Sumberadi, Mlati, Sleman. Dari perempatan pasar Cebongan, ke utara sekitar 500 meter.</p>
<p>Di warung milik bu Istiana ini, Anda bisa mencicip empat jenis masakan sidat; rica-rica, kukus presto, mangut dan goreng. Meski baru buka sekitar 4 tahunan, namun warung ini sering dicari banyak orang. Gusti Joyo, Butet Kertaradjasa, juga para pelancong asal Jepang pun sering mampir di sana.</p>
<p>FA Herru; Foto: Budi Prast</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabaremagazine.net/2012/02/warung-makan-sidat-bu-istiana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pakualaman Tunjuk Putra Mahkota</title>
		<link>http://kabaremagazine.net/2012/02/pakualaman-tunjuk-putra-mahkota/</link>
		<comments>http://kabaremagazine.net/2012/02/pakualaman-tunjuk-putra-mahkota/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 05:05:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusyr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Canthing]]></category>
		<category><![CDATA[Maret 2012]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabaremagazine.net/?p=664</guid>
		<description><![CDATA[Calon pemimpin Pura Pakualaman sudah ditunjuk demi berlangsungnya kehidupan kadipaten tersebut. Regenerasi kepemimpinan dalam Pura Pakualaman Yogyakarta dipastikan akan tetap berjalan secara lancar. Hal itu bisa terjadi lantaran kadipaten tersebut kini sudah punya putra mahkota. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><em>Calon pemimpin Pura Pakualaman sudah ditunjuk demi berlangsungnya kehidupan kadipaten tersebut.</em></p>
<p>Regenerasi kepemimpinan dalam Pura Pakualaman Yogyakarta dipastikan akan tetap berjalan secara lancar. Hal itu bisa terjadi lantaran kadipaten tersebut kini sudah punya putra mahkota. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (KGPAA) Pakualam IX menunjuk putra sulungnya, Kanjeng Bendara Pangeran Haryo (KBPH) Prabu Suryodilogo, sebagai putra mahkota yang kelak akan meneruskan kepemimpinan serta menjalankan ketataprajaan Kadipaten Pakualaman.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Canthing edisi Maret 2012" src="http://kabaremagazine.net/wp-content/uploads/2012/03/slide-0312-tingalan.jpg" alt="" width="500" /></p>
<p>Penunjukan dilakukan bertepatan dengan peringatan Tingalan Dalem 76 tahun KGPAA Paku Alam IX di Bangsal Sewatama Pura Pakualaman, 31 Januari 2012 lalu. Penunjukkan ini juga mendapat dukungan dari segenap trah dan kerabat Pakualaman yang tergabung dalam Keluarga Besar Hudyana. Dukungan diserukan pada acara pernyataan sikap usai upacara Tingalan Dalem. Pernyataan sikap tersebut ditandatangani oleh anggota Hudyana Jakarta KPH Soerjosoejarso, anggota Hudyana Semarang KRMT Sasongkonagoro, anggota Hudyana Bali KRMT Brotoatmojo, anggota Hudyana Surabaya KPH Jurumartani, dan anggota Hudyana Jogja KPH Kusumoparastho.</p>
<p>“Menjadi seorang Pangeran Pati bukan sesuatu yang mudah dan sederhana. KBPH Prabu Suryodilogo kami pandang sudah siap dan matang untuk menjadi putra mahkota yang akan meneruskan tahta,” ujar KPH Kusumoparastho, mewakili Keluarga Besar Hudyana Pakualaman. Ia berujar, penunjukkan dilakukan langsung oleh PA IX. . dan prosesnya sudah melalui mekanisme sesuai adat Pura Pakualaman.</p>
<p>Penunjukkan putra mahkota yang dilakukan sebelum Paku Alam IX mangkat, menurut Kusumoparastho, memang berbeda dari mekanisme pemilihan Paku Alam IX menggantikan ayahnya yang dilakukan setelah Paku Alam VIII wafat. Menurutnya, perbedaan mekanisme ini menunjukkan Paku Alam IX memiliki persiapan yang matang dalam regenerasi.</p>
<p>“Penunjukkan ini sekaligus memperlihatkan bahwa Pakualaman sudah siap dengan regenerasi,” tukasnya. KBPH Prabu Suryodilogo yang bernama asli Drs. RM. Wijoseno Hario Bimo saat ini menjabat sebagai kepala Biro Kesra Dinas Sosial di Pemerintah Provinsi DIY.</p>
<p>Singgih Wahyu; Foto: Albert</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabaremagazine.net/2012/02/pakualaman-tunjuk-putra-mahkota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hujan Mantra di Prambanan</title>
		<link>http://kabaremagazine.net/2012/02/hujan-mantra-di-prambanan/</link>
		<comments>http://kabaremagazine.net/2012/02/hujan-mantra-di-prambanan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 03:36:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusyr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Canthing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabaremagazine.net/?p=655</guid>
		<description><![CDATA[Lantunan rapal doa di situs nusantara untuk kedamaian bumi pertiwi. Hujan selalu mengguyur hampir tiap hari pada awal tahun ini. Turunnya hujan bagi masyarakat Tionghoa adalah pertanda datangnya kebaikan dan kemakmuran. Juga terkandung harapan optimis akan kehidupan yang lebih baik [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-626" title="Canthing edisi Pebruari 2012 (1)" src="http://kabaremagazine.net/wp-content/uploads/2012/02/Canthing-edisi-Pebruari-2012-1.jpg" alt="" width="500" /></strong><em>Lantunan rapal doa di situs nusantara untuk kedamaian bumi pertiwi.</em></p>
<p>Hujan selalu mengguyur hampir tiap hari pada awal tahun ini. Turunnya hujan bagi masyarakat Tionghoa adalah pertanda datangnya kebaikan dan kemakmuran. Juga terkandung harapan optimis akan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Gerimis sempat mengguyur pula area Ramayana Stage, kompleks Candi Prambanan Yogyakarta, 11 Januari 2012, sesaat sebelum konser “Sembah Sujud Doa Pertiwi: Harmoni Nusantara” berlangsung.</p>
<p>Tak sekadar pertunjukan musik, gelaran ini melantunkan selaksa “mantra” untuk kedamaian dan kebaikan negeri ini dalam alunan musik modern dengan nuansa etnik yang kental. Dalam nuansa yang reflektif dan meditatif, konser tersebut menjelma menjadi persembahan dan puji-pujian pada Tuhan. Menghadirkan Trie Utami, kelompok Nyanyian Dharma dan Dewa Budjana, Komunitas Sunda Wiwitan Rajah Mantra, Ayu Laksmi, Gde Kurniawan, penyanyi Laksmi Devi dari San Fransisco, serta grup rock fusion Bali, Mr. Botax.</p>
<p>Candi Prambanan dipilih karena situs nusantara tersebut menyimpan spirit rohani yang luar biasa. Spirit itulah yang ingin diungkapkan para musisi tersebut lewat lagu-lagu. “Keinginan kami, suatu saat harus melakukan satu persembahan di situs budaya nusantara. Candi Prambanan memang salah satu impian, di samping Jogja kuat akar budayanya,” jelas Bagus Mantra selaku pimpinan pagelaran.</p>
<p>Gerimis perlahan berhenti ketika Komunitas Sunda Wiwitan Rajah Mantra melantunkan rapal-rapal mantra sekaligus membuka konser tersebut. Lantunan suara menyanyat dari rebab, ditimpali petikan kecapi, karinding, dan vocal yang merapalkan doa-doa, membawa suasana pada sebuah titik ketenangan batin. Suasana <em>nglangut</em> itu kemudian berganti dengan dentuman music rock dari Mr. Botax, grup musik rock fusion asal Bali. Mereka membawakan musik etnik Bali dengan balutan konsep rock yang rancak.</p>
<p>Penampilan selanjutnya adalah kelompok Nyanyian Dharma. Konsepnya adalah pelestarian nilai luhur Nusantara dalam bingkai kekinian yang dapat menjadi acuan generasi muda dalam melestarikan budaya bangsa, terutama Bali. Tidak heran dalam kemasan musiknya, Nyanyian Dharma kental dengan nuansa Bali. Segenap penonton kemudian larut dalam perasaan tenang dan damai melalui lagu-lagu seperti Saraswati tentang Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan, Kuasa-Nya dan juga lagu Tri Kaya Parisudha.</p>
<p>Trie Utami turut menyumbangkan sebuah mantra untuk salah satu lagunya yaitu Mantram Gayatri. Pada format kelompok musisi Nyanyian Dharma ini dapat dilihat partisipasi Ayu Laksmi yang memberikan persembahan lagu dan tarian. Petikan gitar Dewa Budjana bertingkah bersama gamelan, kendhang, dan alat musik lain menciptakan komposisi unik dan memukau. Dalam lagu lain, komposisi ini juga diperkaya dengan permainan improvisasi vokal Laksmi Devi yang bernuansa Hindustan.</p>
<p>Acara ini menghantarkan kedamaian dan juga mewujudkan konsep multikultural yang nyata dengan partisipasi dan kehadiran dari banyak tokoh lintas kultural, agama dan multidisipliner. Seperti Sri Sultan Hamengku Buwono X, Alissa Wahid, Djaduk Ferianto, rohaniawan Anand Krisna, serta Romo Banar. Mereka kemudian larut dalam doa bersama yang diserukan Tri Utami.</p>
<p>“Semua yang hadir di tempat ini merupakan anak-anak ibu pertiwi yang dilahirkan, dibesarkan, menghirup nafas, dan bertumbuh di atas tanah ini. Ujud syukur malam ini tidak lain adalah pujian dan terima kasih kepada ibu pertiwi,” ujarnya. Sultan HB X pun mengungkapkan apresiasinya atas inisiatif para pemusik mendoakan negeri ini. Semoga Ibu Pertiwi tetap memberi keadilan dan kedamaian bagi kita, demikian Sultan berujar.</p>
<p>Singgih Wahyu; Foto: Budi Prast</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabaremagazine.net/2012/02/hujan-mantra-di-prambanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sambut Imlek di Klenteng Poncowinatan</title>
		<link>http://kabaremagazine.net/2012/02/sambut-imlek-di-klenteng-poncowinatan/</link>
		<comments>http://kabaremagazine.net/2012/02/sambut-imlek-di-klenteng-poncowinatan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 03:17:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusyr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendopo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabaremagazine.net/?p=639</guid>
		<description><![CDATA[Di Indonesia, interaksi antara orang Cina dengan masyarakat pribumi berlangsung selama berabad-abad, sejak awal abad pertama Masehi. Unsur-unsur budaya Cina melebur dengan unsur-unsur lainnya. Dengan membawa kebudayaan masing-masing, mereka hidup membaur. Dalam buku &#8220;Nusa Jawa: Silang Budaya&#8221; yang ditulis sejarawan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste"><img title="Pendopo  edisi Pebruari 2012" src="http://kabaremagazine.net/wp-content/uploads/2012/02/Pendopo-edisi-Pebruari-2012.jpg" alt="" width="500" /></div>
<p>Di Indonesia, interaksi antara orang Cina dengan masyarakat pribumi berlangsung selama berabad-abad, sejak awal abad pertama Masehi. Unsur-unsur budaya Cina melebur dengan unsur-unsur lainnya. Dengan membawa kebudayaan masing-masing, mereka hidup membaur.</p>
<p>Dalam buku &#8220;Nusa Jawa: Silang Budaya&#8221; yang ditulis sejarawan Prancis Prof. Dr. Denys Lombard, menyebut bahwa asimilasi kebudayaan Cina dan kebudayaan-kebudayaan di Nusantara berlangsung sangat mulus dan alami. Jawa, sebelum masa kolonialisme Belanda, adalah ruang reseptif bagi terjadinya perjumpaan kebudayaan dari berbagai negeri.</p>
<p>Jauh setelah masa itu, proses asimilasi bangsa Cina dengan masyarakat setempat yang begitu natural selama berabad-abad memang pernah tersendat. Meskipun berlangsung cukup lama, namun begitu, semenjak kepemimpinan Indonesia dipegang Presiden Abdurahman Wahid, rakyat Indonesia keturunan Cina (Tionghoa) mulai dapat lagi menunjukkan identitas budaya dari nenek moyangnya.</p>
<p>Pembauran budaya dan kebersamaan kembali harmonis di saat ini. Bermacam kegiatan ritual agama ataupun perayaan seni, baik Jawa maupun Cina, mulai mewarnai agenda-agenda budaya Indonesia di berbagai daerah. Seperti yang terjadi di saat warga keturunan Tionghoa di Jogja menyambut datangnya tahun baru Imlek 2563.</p>
<p>Sabtu pagi, 21 Januari lalu, puluhan warga keturunan Tionghoa, umat Tri Dharma menggelar sembahyangan menyambut Imlek di Klenteng Poncowinatan. Pembauran budaya Jawa dan Cina pun terlihat di sini. Setiap perayaan Imlek, klenteng tertua di Jogja itu menggelar tradisi tumpengan saat dilangsungkan upacara sembahyangan di sana. Di tahun Naga Air ini terdapat tiga tumpeng yang dipersembahkan pihak klenteng dan umat untuk perayaan itu, selain juga bermacam buah-buahan. Setelah mereka berdoa dan mendoakan tumpeng itu kepada Sang Pencipta, nasi tumpeng itu kemudian akan diperebutkan mereka yang hadir saat itu.</p>
<p>Tradisi tumpengan memang lekat dengan khasanah budaya Jawa. Namun tumpengan rupanya juga telah mendarah daging pada warga masyarakat keturunan Tionghoa yang hidup di Jogja. Tak urung, tradisi tumpengan yang diselenggarakan di klenteng yang berdiri sejak tahun 1881ini, memberikan keunikan tersendiri bagi perayaan Imlek di kota multikultur itu. Sebab, mungkin saja tradisi yang unik ini tidak akan kita lihat di klenteng-klenteng yang lain.</p>
<p>Naskah: FA Herru; Foto: Budi Prast</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabaremagazine.net/2012/02/sambut-imlek-di-klenteng-poncowinatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blangkon: Symbol of Great and Eternal Cultural Work</title>
		<link>http://kabaremagazine.net/2012/01/blangkon-symbol-of-great-and-eternal-cultural-work/</link>
		<comments>http://kabaremagazine.net/2012/01/blangkon-symbol-of-great-and-eternal-cultural-work/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 02:47:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusyr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Canthing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabaremagazine.net/?p=610</guid>
		<description><![CDATA[Javanese people life image is never detached from its cultural viscosity. Wherever and no matter where, the Javanese always keep the meaning and deep philosophy in every aspect. Behavior, thought patterns and even the taken decisions, if possible, should be [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-612" title="Javanese Blangkon" src="http://kabaremagazine.net/wp-content/uploads/2012/01/1201-blangkon-1.jpg" alt="Javanese Blangkon" width="500" height="333" />Javanese people life image is never detached from its cultural viscosity. Wherever and no matter where, the Javanese always keep the meaning and deep philosophy in every aspect. Behavior, thought patterns and even the taken decisions, if possible, should be based on the values of life that showing Javanese characteristics. If we take a look from the traditional attributes worn by the Javanese, there are many things we can learn. Completeness of the outfit for example, Java has a special characteristic of traditional outfit that is also owned by other regions in Indonesia.</p>
<p>Each man or woman wears his/her outfit harmonized to the Javanese identity itself. The women style their hairs when they are wearing the traditional outfit, while the men’s traditional outfit is completed with a head cover as the accessories. If we notice it, its function is merely as a cover not for protecting head from the sunlight or some sort of. It is more than an attribute which is embedding the meaning of Java culture. In Java, we know Blangkon, blangkon is a head cover made of batik clothe. Initially, blangkon is a head cover which is worn to distinguish an aristocrat or a courtier with common people who only use “iket” as a head cover.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-613" title="Javanese Blangkon" src="http://kabaremagazine.net/wp-content/uploads/2012/01/1201-blangkon-2.jpg" alt="Javanese Blangkon" width="500" height="333" />In Yogyakarta, specially, blangkon has its own specification which is different with Surakarta’s blangkon. According to its shape, blangkon is differentiated as Ngayogyakarto’s and Surakarta’s blangkon. Both have different shape and also have different meaning and philosophy. Ngayogyakarto’s blangkon has a Javanese people’s philosophy who can keep their secret very well, keep their disgrace and something that is related with someone else or themselves. From these things are the philosophy built. In that time, the men keep their hairs long and tied it up then wrapped it with clothe. That kind of hairstyle which is similar with “mondolan”, this is also become the peculiarity of Yogyakarta’s blangkon. As the time goes by, some men cut their hairs and do not tie it like “mondolan”, then the modification of “mondolan” in the back part of Jogja’s blangkon represents the ancient philosophy.</p>
<p>While, Solo’s blangkon has a thin or flat shape in its back part. This certainly has a different philosophy from Yogyakarta’s blangkon. The absence of bulge, just being tied between the tips of two strands on the right and left part. Interpret that for combining one purpose in a straight thought is that two sentences of confession faith that must be embedded closely in the minds of the Javanese.</p>
<p>Blangkon as works of art and culture, symbolizes the skill of a man. There is a high magnanimity that is honoured within. In ancient Javanese society, in fact blangkon becomes everyday clothe or even it can be mentioned as obligatory clothe. Especially if there are rituals such as traditional ritual and so forth, blangkon is never detached from head. Indeed, in terms of shape, blangkon looks simple but keeps its precious meaning. Apparently, the flow of globalization do not shift the existence of blangkon as a cultural heritage. The emergence of a variety of head covers such as hats with all its shapes, will never replace blangkon as the completeness of traditional outfit. Blangkon still has a value that is created from centuries years ago, as the cultural work of the great and eternal.</p>
<p>Mei Ratri; Foto: Budi Prast</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabaremagazine.net/2012/01/blangkon-symbol-of-great-and-eternal-cultural-work/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayam Bakar Taman Siswa, Empuk Sampai Tulang</title>
		<link>http://kabaremagazine.net/2012/01/ayam-bakar-taman-siswa-empuk-sampai-tulang/</link>
		<comments>http://kabaremagazine.net/2012/01/ayam-bakar-taman-siswa-empuk-sampai-tulang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 01:13:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusyr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Klangenan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabaremagazine.net/?p=601</guid>
		<description><![CDATA[Ayam bakar semakin bertengger di atas. Dari warung kecil hingga rumah yang patut disebut restoran, sepertinya akan merasa tak lengkap jika mereka tak menyediakan kudapan merakyat itu di meja makannya. Coba saja sesekali tengok, di kota manapun, rumah makan dengan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-603" title="Ayam Bakar Taman Siswa" src="http://kabaremagazine.net/wp-content/uploads/2012/01/1201-ayam-tamsis.jpg" alt="Ayam Bakar Taman Siswa" width="500" height="500" /></strong>Ayam bakar semakin bertengger di atas. Dari warung kecil hingga rumah yang patut disebut restoran, sepertinya akan merasa tak lengkap jika mereka tak menyediakan kudapan merakyat itu di meja makannya. Coba saja sesekali tengok, di kota manapun, rumah makan dengan menu satu ini jarang sekali sulit ditemukan. Bagi mereka, ayam bakar sering kali dijadikan ikon atau sebagai hidangan andalan pemikat hati banyak orang. Sampai-sampai, tak sedikit yang namanya kesohor karena menu yang satu ini.</p>
<p>Lagi-lagi Jogja. Salah satu kota kuliner di Indonesia ini boleh dibilang kandangnya. Rumah makan bermenu ayam bakar banyak mengeram di tiap penjuru kota. Dengan gaya tradisional ataupun modern, mereka berlomba  pada rasa dan kekhasan masing-masing. Seperti halnya di warung Ayam Bakar Taman Siswa. Dengan harga disesuaikan kantong mahasiswa, rumah makan berkonsep tradisional ini pun mengutamakan ayam bakar sebagai menu jagoannya, meskipun juga sedia menu lain, seperti bebek, ikan bawal laut, patin, banyar, nila, dan lele bakar serta goreng.</p>
<p>Empuk hingga ke tulang cirikhasnya. Sebelum dibubuhi lagi bumbu cair lalu dibakar, daging ayam kampung dan potong, terlebih dulu dimasak <em>ungkep</em> dengan racikan bumbu-bumbu dapur sekitar 4-5 jam. Itu yang membuat tulangnya bahkan jadi empuk. Selain itu, Gatot Agus Wahyono dan Atik Khasanah, pemiliknya, juga mengutamakan takaran bumbu yang pas. Bahan-bahan bumbu pun dipilih yang berkualitas baik, agar menghasilkan masakan yang dapat lebih memunculkan aroma dan rasa yang <em>mak nyos</em>.</p>
<p>Karena itu, rumah makan ini kian dapat mencuri hati pengunjung. Hanya dalam waktu 14 tahun, dia dapat berkembang pesat. Dari satu warung yang semula hanya menghabiskan 2-3 kg daging, kini berkembang jadi dua warung yang sering kali menghabiskan daging hingga 100 kg. Bahkan kini siap <em>franchise</em>.  Kalau tertarik mencoba, silakan datang saat jam makan malam ke warungnya unit I di Jl Taman Siswa, persis depan gedung LP, atau unit II yang buka dari jam 9 pagi hingga 11 malam di Gg Pronocitro di jalan yang sama.</p>
<p>FA Herru; Foto: Budi Prast</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabaremagazine.net/2012/01/ayam-bakar-taman-siswa-empuk-sampai-tulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eksotika Drupadi di Kota Solo</title>
		<link>http://kabaremagazine.net/2012/01/eksotika-drupadi-di-kota-solo/</link>
		<comments>http://kabaremagazine.net/2012/01/eksotika-drupadi-di-kota-solo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 03:38:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusyr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gebyar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabaremagazine.net/?p=616</guid>
		<description><![CDATA[Drupadi seakan tidak pernah hilang terenggut jaman. Keanggunan dan kecantikan Drupadi tiada henti digaungkan messki di zaman modern sekalipun. Keeksotisannya merupakan daya tarik terbesar, hingga mampu menciptakan sebuah inspirasi bagi Rory Wardhana untuk menampilkan karya-karya &#8220;couture&#8220;.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div><object id="61d0ff18-ab60-4ad7-161f-15c9f47ef3d8" style="width: 500px; height: 300px;" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="100" height="100" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="menu" value="false" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="src" value="http://static.issuu.com/webembed/viewers/style1/v2/IssuuReader.swf?mode=mini&amp;pageNumber=2&amp;backgroundColor=%23222222&amp;documentId=120127033145-39d48cb9d2824bfa94d7f42c29d2ca70" /><param name="flashvars" value="mode=mini&amp;pageNumber=2&amp;backgroundColor=%23222222&amp;documentId=120127033145-39d48cb9d2824bfa94d7f42c29d2ca70" /><embed id="61d0ff18-ab60-4ad7-161f-15c9f47ef3d8" style="width: 500px; height: 300px;" type="application/x-shockwave-flash" width="100" height="100" src="http://static.issuu.com/webembed/viewers/style1/v2/IssuuReader.swf?mode=mini&amp;pageNumber=2&amp;backgroundColor=%23222222&amp;documentId=120127033145-39d48cb9d2824bfa94d7f42c29d2ca70" flashvars="mode=mini&amp;pageNumber=2&amp;backgroundColor=%23222222&amp;documentId=120127033145-39d48cb9d2824bfa94d7f42c29d2ca70" wmode="transparent" menu="false" allowfullscreen="true"></embed></object></div>
<p>Drupadi seakan tidak pernah hilang terenggut jaman. Keanggunan dan kecantikan Drupadi tiada henti digaungkan messki di zaman modern sekalipun. Keeksotisannya merupakan daya tarik terbesar, hingga mampu menciptakan sebuah inspirasi bagi Rory Wardhana untuk menampilkan karya-karya &#8220;<em>couture</em>&#8220;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabaremagazine.net/2012/01/eksotika-drupadi-di-kota-solo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arlinda Chaves Frota: Painting as a Medium of Emotions and Affections</title>
		<link>http://kabaremagazine.net/2012/01/arlinda-chaves-frota-painting-as-a-medium-of-emotions-and-affections/</link>
		<comments>http://kabaremagazine.net/2012/01/arlinda-chaves-frota-painting-as-a-medium-of-emotions-and-affections/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 01:27:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusyr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kembang Manca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabaremagazine.net/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[It was an interesting occasion when Kabare met Mrs. Frota. Donning a white blouse and a batik skirt, accentuating her being elegant and vibrant, Mrs. Frota explained why she painted porcelain with batik motifs. Painting batik on porcelain is her [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-578 alignleft" title="Arlinda Chaves Frota" src="http://kabaremagazine.net/wp-content/uploads/2012/01/1201-kembang-manca.jpg" alt="Arlinda Chaves Frota" width="500" />It was an interesting occasion when <em>Kabare</em> met Mrs. Frota. Donning a white blouse and a batik skirt, accentuating her being elegant and vibrant, Mrs. Frota explained why she painted porcelain with batik motifs. Painting batik on porcelain is her way to honor Indonesia and to express her love for the country and its major tradition of art forms, described the artist. She began learning the technique of painting on porcelain when an art professor in Macau introduced it to her in late 1999. Their paths crossed when the professor became her patient. Yes, her patient because Mrs. Frota is a retired medical doctor specializing in tropical diseases who had practiced for 40 years.</p>
<p>Since then her love for painting grew stronger. She had practical lessons with individual artists and improved her techniques further by herself. She loves to use natural pigments in her work. When asked whether she would prefer to be a doctor or an artist, she said that to being a doctor means being an artist. A doctor needs to look upon her patient like somebody who needs love. So, she added, you need to be an artist to use your knowledge as a doctor to make your patient healthy.</p>
<p>Born in Luanda,  Angola, a woman whose complete name is Arlinda Augusta Bessa Victor Chaves Frota is the daughter of an artist, an art lover and an art collector. A chip off the old block, Ms. Frota has received global acclamation as an artist. She has had several exhibitions across different continents, such as in Portugal, her home country, Angola in Africa, South  Korea and one exhibition in Indonesia. The exhibition in Jakarta, entitled <em>Reflections</em>, was held in 2010 at Kemang Duta Fine Arts Foundation, South  Jakarta. In December 2004 she received a prize for two of her painted ceramics (porcelain), at the Seventh World Peace Conference organized by the United Nations (UN) in Ansan,  South Korea, where she was honored by then-Secretary-General Kofi Annan.</p>
<p>Mrs. Frota has a special impression of islands in East Nusa Tenggara, Indonesia. She, in fact, has visited the region several times with her husband, Mr. Carlos Manuel Leiato Frota, the ambassador of Portuguese Republic in Indonesia. Once Mr. and Mrs. Frota had dinner with one of local families, and they were thrilled to discover an abundance of Portuguese heritage preserved in the society. The whole experience of discovering new places – such as Maumere &#8211; and local people that bear Portuguese names is fascinating to her. “I never met anyone who expressed their dislike about Indonesia,” Mrs. Frota concluded the interview.</p>
<p>Ida Susanti, Vincentius Nugraha</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabaremagazine.net/2012/01/arlinda-chaves-frota-painting-as-a-medium-of-emotions-and-affections/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
